script type='text/javascript'> var thumbnail_mode = "float" ; summary_noimg = 275; summary_img = 275; img_thumb_height = 120; img_thumb_width = 120;

Selasa, 12 Agustus 2014

Mendidik dengan Nasihat

Anak memerlukan nasihat untuk melakukan hal yang baik dan benar. Anak perlu diberi tahu serta diingatkan untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang salah. Suatu sifat manusiawi bahwa salah dan lupa itu akan selalu ada. Anak-anak pun tak dapat terhindar dari sifat lupa dan berbuat kesalahan, walaupun sudah setiap hari dan setiap saat dinasihati.
Ketika anak melakukan kesalahan, maka tak ada kata lain bagi orang tua kecuali menasihatinya. Tetapi, hal penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana nasihat itu harus disampaikan kepada anak, agar anak memahami nasihat dan mampu melaksanakannya dengan ringan hati  tanpa disertai rasa marah dan kebencian.
Kiat-kiat menasihati anak :
1. Nasihat harus diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Gunakan kalimat-kalimat sederhana, tapi mengena. Gunakan bahasa yang santun, sampaikan dengan tenang dan tanpa kemarahan.
2. Isi nasihat bisa diambil dari kisah-kisah yang ada dalam Al Qur’an, hadist-hadist Rasulullah SAW, atau kisah-kisah para sahabat, tabi’in, kisah-kisah teladan lainnya. Sampaikan kisah-kisah tersebut sebagai cerita sebelum tidur, cerita saat bermain, dan bacaan harian anak, sehingga nasihat dapat dicerna dengan baik tanpa ada kesan digurui.
3. Nasihat bisa disampaikan dengan cara-cara yang santai, seperti ngobrol, sambil bercanda, sambil makan bersama, dalam perjalanan, saat menemani anak berangkat tidur, dan lain-lain.
4. Jangan sekali-kali menasihati anak ketika kita dan anak kita dalam keadaan sedang marah. Orang yang marah tidak mampu berfikir secara rasional. Berbicara pasti dengan emosi. Semakin banyak bicara, emosi akan semakin membara. Apabila dipaksa berbicara,kata-kata yang keluar bisa jadi tidak terkontrol dan akhirnya bisa semakin mempertajam masalah. Langkah terbaik adalah mengikuti nasihat Rasulullah SAW, diamlah ketika marah.
5. Jangan menuntut anak untuk melakukan nasihat saat itu juga, karena anak bukanlah robot yang langsung bisa melaksanakan segala instruksi hanya dengan menekan tombol remote control.
6. Beri anak waktu untuk berfikir dan menyelami nasihat yang kita berikan, dan jangan  terburu-buru memberikan sanksi saat anak belum  melaksanakan nasihat tersebut.
7. Diskusikan bersama anak sanksi apa yang akan diberikan bila anak melanggar nasihat-nasihat kita.
Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana cara menasihati anak ketika mereka melakukan kesalahan :
a. Menegur anak dengan lemah lembut ketika anak melakukan kesalahan saat itu juga, kemudian menunjukkan hal yang benar. Seperti ketika Rasulullah SAW menegur seorang anak yang melakukan kesalahan saat makan bersama, maka beliau memberitahukan etika makan makan yang benar. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu.” (H.R. Bukhari Muslim)
b. Menasihati anak dengan sindiran. Nasihat dilakukan di depan banyak anak, tetapi tidak menyebutkan nama anak yang melakukan kesalahan, agar anak tidak merasa malu di depan teman-temannya.
c. Menasihati anak yang melakukan kesalahan secara tersembunyi untuk menjaga perasaan anak. Anak yang melakukan kesalahan dipanggil ke tempat khusus, dan dinasihati dari hati kehati, tidak di depanteman-temannya.
d. Menegur anak yang melakukan kesalahan, menunjukkan kesalahannya, kemudian memberi waktu untuk berfikir tentang kesalahan yang dilakukan. Kemudian memberikan sanksi yang setara dengan kesalahan anak, bila anak masih tetap melakukan kesalahan.
e. Tidak terlalu cepat memberikan hukuman, tetapi cari dulu sebab mengapa anak melakukan kesalahan. Beri nasihat, lihat hasilnya, baru setelah itu apabila anak belum juga berubah ke arah yang lebih baik, berikan hukuman yang setara dengan  kesalahan yang dilakukan.
Dalam menasihati anak, alangkah baiknya bila orang tua juga dapat menjadi contoh tauladan bagi anak tentang hal-hal yang dinasihatkan kepadanya. Sebab bagi anak, contoh riil akan lebih mengena daripada sekedar kata-kata.
Semoga kita para orang tua yang menginginkan anak-anak sholeh dan sholihah, terhindar dari perbuatan ini. Semoga kita dapat menjadi contoh bagi anak-anak kita dalam segala ucapan dan perbuatan, menjadi model idola bagi anak, dan bukan hanya menjadi orang tua yang pandai menasihati tetapi tak pandai memberi tauladan. Na’udzubillaahi min dzaalik. Aamiin.
Jangan sampai kita menjadi orang yang suka mengatakan, “Ikuti apa yang saya katakan, jangan ikuti apa yang saya lakukan”, namun semoga kita menjadi orang tua yang selalu dapat melakukan apa-apa yang kita nasihatkan kepada anak-anak kita, sehingga anak-anak memperoleh gambaran yang jelas bagaimana melaksanakan nasihat yang kita sampaikan. Aamiin. []
Hal 32 Oleh Ari Aji Astuti
Sekretaris I Pimpinan Wilayah Salimah Jawa Tengah

sumber: http://majalahembun.com/category/14-kolom/14-buah-hati/ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar