Ketika anak melakukan kesalahan, maka
tak ada kata lain bagi orang tua kecuali menasihatinya. Tetapi, hal
penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana nasihat itu harus
disampaikan kepada anak, agar anak memahami nasihat dan mampu
melaksanakannya dengan ringan hati tanpa disertai rasa marah dan
kebencian.
Kiat-kiat menasihati anak :
1. Nasihat harus diberikan dengan bahasa
yang mudah dipahami oleh anak. Gunakan kalimat-kalimat sederhana, tapi
mengena. Gunakan bahasa yang santun, sampaikan dengan tenang dan tanpa
kemarahan.
2. Isi nasihat bisa diambil dari
kisah-kisah yang ada dalam Al Qur’an, hadist-hadist Rasulullah SAW, atau
kisah-kisah para sahabat, tabi’in, kisah-kisah teladan lainnya.
Sampaikan kisah-kisah tersebut sebagai cerita sebelum tidur, cerita saat
bermain, dan bacaan harian anak, sehingga nasihat dapat dicerna dengan
baik tanpa ada kesan digurui.
3. Nasihat bisa disampaikan dengan
cara-cara yang santai, seperti ngobrol, sambil bercanda, sambil makan
bersama, dalam perjalanan, saat menemani anak berangkat tidur, dan
lain-lain.
4. Jangan sekali-kali menasihati anak
ketika kita dan anak kita dalam keadaan sedang marah. Orang yang marah
tidak mampu berfikir secara rasional. Berbicara pasti dengan emosi.
Semakin banyak bicara, emosi akan semakin membara. Apabila dipaksa
berbicara,kata-kata yang keluar bisa jadi tidak terkontrol dan akhirnya
bisa semakin mempertajam masalah. Langkah terbaik adalah mengikuti
nasihat Rasulullah SAW, diamlah ketika marah.
5. Jangan menuntut anak untuk melakukan
nasihat saat itu juga, karena anak bukanlah robot yang langsung bisa
melaksanakan segala instruksi hanya dengan menekan tombol remote control.
6. Beri anak waktu untuk berfikir dan
menyelami nasihat yang kita berikan, dan jangan terburu-buru memberikan
sanksi saat anak belum melaksanakan nasihat tersebut.
7. Diskusikan bersama anak sanksi apa yang akan diberikan bila anak melanggar nasihat-nasihat kita.
Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana cara menasihati anak ketika mereka melakukan kesalahan :
a. Menegur anak dengan lemah lembut
ketika anak melakukan kesalahan saat itu juga, kemudian menunjukkan hal
yang benar. Seperti ketika Rasulullah SAW menegur seorang anak yang
melakukan kesalahan saat makan bersama, maka beliau memberitahukan etika
makan makan yang benar. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu.” (H.R. Bukhari Muslim)
b. Menasihati anak dengan sindiran.
Nasihat dilakukan di depan banyak anak, tetapi tidak menyebutkan nama
anak yang melakukan kesalahan, agar anak tidak merasa malu di depan
teman-temannya.
c. Menasihati anak yang melakukan
kesalahan secara tersembunyi untuk menjaga perasaan anak. Anak yang
melakukan kesalahan dipanggil ke tempat khusus, dan dinasihati dari hati
kehati, tidak di depanteman-temannya.
d. Menegur anak yang melakukan
kesalahan, menunjukkan kesalahannya, kemudian memberi waktu untuk
berfikir tentang kesalahan yang dilakukan. Kemudian memberikan sanksi
yang setara dengan kesalahan anak, bila anak masih tetap melakukan
kesalahan.
e. Tidak terlalu cepat memberikan
hukuman, tetapi cari dulu sebab mengapa anak melakukan kesalahan. Beri
nasihat, lihat hasilnya, baru setelah itu apabila anak belum juga
berubah ke arah yang lebih baik, berikan hukuman yang setara dengan
kesalahan yang dilakukan.
Dalam menasihati anak, alangkah baiknya
bila orang tua juga dapat menjadi contoh tauladan bagi anak tentang
hal-hal yang dinasihatkan kepadanya. Sebab bagi anak, contoh riil akan
lebih mengena daripada sekedar kata-kata.
Semoga kita para orang tua yang
menginginkan anak-anak sholeh dan sholihah, terhindar dari perbuatan
ini. Semoga kita dapat menjadi contoh bagi anak-anak kita dalam segala
ucapan dan perbuatan, menjadi model idola bagi anak, dan bukan hanya
menjadi orang tua yang pandai menasihati tetapi tak pandai memberi
tauladan. Na’udzubillaahi min dzaalik. Aamiin.
Jangan sampai kita menjadi orang yang
suka mengatakan, “Ikuti apa yang saya katakan, jangan ikuti apa yang
saya lakukan”, namun semoga kita menjadi orang tua yang selalu dapat
melakukan apa-apa yang kita nasihatkan kepada anak-anak kita, sehingga
anak-anak memperoleh gambaran yang jelas bagaimana melaksanakan nasihat
yang kita sampaikan. Aamiin. []
sumber: http://majalahembun.com/category/14-kolom/14-buah-hati/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar