Pola pembiasaan merupakan salah satu
cara yang efektif dalam pendidikan anak. Pola ini tidak memerlukan
banyak kata dan perintah, hanya memerlukan contoh dan konsistensi dalam
melatih kebiasaan anak.
Hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menanamkan pendidikan dengan pembiasaan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk anak balita
a. Pengkondisian dengan latihan berulang-ulang
Tahap ini sudah bisa dimulai sejak bayi.
Hal-hal yang ingin kita tanamkan kepada anak seperti, membaca al Qur’an
setiap ba’da magrib, membiasakan cuci tangan sebelum makan, dan
lain-lain, kita contohkan kepada anak. Ini adalah merupakan tahap
pengkondisian. Saat itu, anak akan mengamati, dan mencoba mencerna
hal-hal yang ia lihat.
Setelah pengkondisian kita lakukan,
kemudian kita latih anak-anak untuk melakukannya bersama-sama setiap
hari, berulang-ulang, dan kita ingatkan bila anak lupa atau tidak
melakukannya. Untuk anak yang masih bayi, kita ajak serta pada saat kita
melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Misalnya dengan menggendong atau
memangkunya ketika kita membaca Al Qur’an, menidurkan anak disamping
sajadah kita ketika kita shalat, dan sebagainya.
b. Membimbing/menuntun anak
melakukan sesuatu dimulai dari mendengar, mengulang, memahami,
menuliskan, membaca, dan kemudian mempraktikkan.
Misalnya membiasaan anak menghafal Al
Qur’an, menghafal bacaan shalat, menghafal hadist, dan lain-lain. Kita
mulai memperdengarkan ayat-ayat yang menjadi target hafalan anak, satu
ayat demi satu ayat, berulang-ulang, secara kontinu misalnya setiap
mengantar atau menemani anak menjelang tidur.
Saya telah mempraktikkan cara tersebut
ketika anak saya masih bayi. Setiap malam ketika mengantar anak tidur,
saya bacakan ayat-ayat Al Qur’an. Alhamdulillah, saat anak mulai bisa
berbicara, ayat-ayat itu terucap dari mulutnya dengan baik dan lancar.
Untuk hafalan do’a sehari-hari, saya
membacakannya setiap akan melakukan kegiatannya. Ketika akan memberi
ASI, saya bacakan do’a mau makan.Selesai memberi ASI saya bacakan do’a
setelah makan. Begitu anak bisa berbicara, semua aktifitas yang akan
dlakukan dimulai dengan do’a yang sesuai, dengan baik pula..
2. Untuk anak-anak yang sudah baligh/dewasa
Sering terjadi, orang tua lupa
menanamkan hal-hal baik kepada anak sehingga anak belum terbiasa
melakukan kebaikan-kebaikan yang seharusnya sudah ia lakukan dikala usia
mereka sudah baligh/dewasa.
Tentu hal ini menjadi lebih sulit
dibanding dengan menanamkan kebiasaan ketika masih usiakanak-kanak.
Diperlukan cara lain untuk dapat menyentuh rasa dan nurani anak sehingga
ia akan tersadar dan kemudian melakukan kebiasaan baik dengan kesadaran
sendiri. Anak-anak yang sudah baligh disadarkan dengan cara melibatkan
rasa dan pikirnya, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menghubungkan/mengaitkan segala urusan dengan aqidah
Anak yang sudah baligh, ia sudah mampu
berpikir. Ketika dalam usia tersebut anak belum terbiasa melakukan
hal-hal yang seharusnya dia lakukan, hal yang paling tepat dilakukan
adalah mengingatkannya dengan konsep aqidah.
Diingatkan akan banyaknya nikmat Allah
SWT yang dilimpahkan kepadanya sehingga mestinya ia bersyukur dengan
melakukan ketaatan dan memperbanyak ibadah. Diingatkan dengan adanya
surga dan neraka, balasan kebaikan yang berlipat ganda bagi yang beramal
shaleh, dan azab yang dahsyat bagi yang ingkar kepada Allah SWT dengan
cara yang halus dan menyentuh hati, bukan dengan tekanan dan banyak
vonis.
b. Menjauhkan anak dari kemaksiatan
Agar anak terjaga dari hal-hal negatif
dan bisa terus konsisten dengan perubahan menuju kebaikan, hindarkan
selalu dari hal-hal yang buruk. Pelihara anak dari perilaku maksiat dan
terus beri semangat bahwa dia akan mampu berubah bila ia berusaha dengan
sungguh-sungguh.
c. Mengubah lingkungan anak
Ada kalanya anak sulit berubah menjadi
lebih baik bila lingkungan pergaulan dan lingkungan hidupnya tidak
berubah. Pengaruh lingkungan teramat besar bagi anak-anak, terutama yang
sedang beranjak dewasa karena saat itu anak-anak biasanya merasa lebih
nyaman dengan teman seusianya dan mulai sedikit menjauh dari orang tua.
Maka orang tua wajib menciptakan lingkungan yang baik, yang mendukung
terhadap perubahan anak dan meyakinkan bahwa lingkungan tempat mereka
bergaul dan berkembang adalah lingkungan yang baik.
| Oleh Ari Aji Astuti Sekretaris I Pimpinan Wilayah Salimah Jawa Tengah |
| majalahembun.com |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar