script type='text/javascript'> var thumbnail_mode = "float" ; summary_noimg = 275; summary_img = 275; img_thumb_height = 120; img_thumb_width = 120;

Selasa, 12 Agustus 2014

Pendidikan dengan Pembiasaan

Pendidikan dengan pembiasaan adalah pendidikan yang dilakukan dengan cara membiasakan anak untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan. Ini merupakan  kelanjutan dari pendidikan dengan keteladanan. Hal-hal positif yang ingin kita tanamkan kepada anak, kita berikan kepada mereka berupa contohperilaku, dan kemudian kita biasakan anak-anak untuk melakukan hal-hal tsb.
Pola pembiasaan merupakan salah satu cara yang efektif dalam pendidikan anak. Pola ini tidak memerlukan banyak kata dan perintah, hanya memerlukan contoh dan konsistensi dalam melatih kebiasaan anak.
Hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menanamkan pendidikan dengan pembiasaan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk anak balita
a.  Pengkondisian dengan latihan berulang-ulang
Tahap ini sudah bisa dimulai sejak bayi. Hal-hal yang ingin kita tanamkan kepada anak seperti, membaca al Qur’an setiap ba’da magrib, membiasakan cuci tangan sebelum makan, dan lain-lain, kita contohkan kepada anak. Ini adalah merupakan tahap pengkondisian. Saat itu, anak akan mengamati, dan mencoba mencerna hal-hal yang ia lihat.
Setelah pengkondisian kita lakukan, kemudian kita latih anak-anak untuk melakukannya bersama-sama  setiap hari, berulang-ulang, dan kita ingatkan bila anak lupa atau tidak melakukannya. Untuk anak yang masih bayi, kita ajak serta pada saat kita melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Misalnya dengan menggendong atau memangkunya ketika kita membaca Al Qur’an, menidurkan anak disamping sajadah kita ketika kita shalat, dan sebagainya.
b. Membimbing/menuntun anak melakukan sesuatu dimulai dari mendengar, mengulang, memahami, menuliskan, membaca, dan kemudian mempraktikkan.
Misalnya membiasaan anak menghafal Al Qur’an, menghafal bacaan shalat, menghafal hadist, dan lain-lain. Kita mulai memperdengarkan ayat-ayat yang menjadi target hafalan anak, satu ayat demi satu ayat, berulang-ulang, secara kontinu misalnya setiap mengantar atau menemani anak menjelang tidur.
Saya telah mempraktikkan cara tersebut ketika anak saya masih bayi. Setiap malam ketika mengantar anak tidur, saya bacakan ayat-ayat Al Qur’an. Alhamdulillah, saat anak mulai bisa berbicara, ayat-ayat itu terucap dari mulutnya dengan baik dan lancar.
Untuk hafalan do’a sehari-hari, saya membacakannya setiap akan melakukan kegiatannya. Ketika akan memberi ASI, saya bacakan do’a mau makan.Selesai memberi ASI saya bacakan do’a setelah makan. Begitu anak bisa berbicara, semua aktifitas yang akan dlakukan dimulai dengan do’a yang sesuai, dengan baik pula..
2. Untuk anak-anak yang sudah baligh/dewasa
Sering terjadi, orang tua lupa menanamkan hal-hal baik kepada anak sehingga anak belum terbiasa melakukan kebaikan-kebaikan yang seharusnya sudah ia lakukan dikala usia mereka sudah baligh/dewasa.
Tentu hal ini menjadi lebih sulit dibanding dengan menanamkan kebiasaan ketika masih usiakanak-kanak. Diperlukan cara lain untuk dapat menyentuh rasa dan nurani anak sehingga ia akan tersadar dan kemudian melakukan kebiasaan baik dengan kesadaran sendiri. Anak-anak yang sudah baligh disadarkan dengan cara melibatkan rasa dan pikirnya, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menghubungkan/mengaitkan segala urusan dengan aqidah
Anak yang sudah baligh, ia sudah mampu berpikir. Ketika dalam usia tersebut anak belum terbiasa melakukan hal-hal yang seharusnya dia lakukan, hal yang paling tepat dilakukan adalah mengingatkannya dengan konsep aqidah.
Diingatkan akan banyaknya nikmat Allah SWT yang dilimpahkan kepadanya sehingga mestinya ia bersyukur dengan melakukan ketaatan dan memperbanyak ibadah. Diingatkan dengan adanya surga dan neraka, balasan kebaikan yang berlipat ganda bagi yang beramal shaleh, dan azab yang dahsyat bagi yang ingkar kepada Allah SWT dengan cara yang halus dan menyentuh hati, bukan dengan tekanan dan banyak vonis.
 b. Menjauhkan anak dari kemaksiatan
Agar anak terjaga dari hal-hal negatif dan bisa terus konsisten dengan perubahan menuju kebaikan, hindarkan selalu dari hal-hal yang buruk. Pelihara anak dari perilaku maksiat dan terus beri semangat bahwa dia akan mampu berubah bila ia berusaha dengan sungguh-sungguh.
c. Mengubah lingkungan anak
Ada kalanya anak sulit berubah menjadi lebih baik bila lingkungan pergaulan dan lingkungan hidupnya tidak berubah. Pengaruh lingkungan teramat besar bagi anak-anak, terutama yang sedang beranjak dewasa karena saat itu anak-anak biasanya merasa lebih nyaman dengan teman seusianya dan mulai sedikit menjauh dari orang tua. Maka orang tua wajib menciptakan lingkungan yang baik, yang mendukung terhadap perubahan anak dan meyakinkan bahwa lingkungan tempat mereka bergaul dan berkembang adalah lingkungan yang baik.


Hal 32 Oleh Ari Aji Astuti
Sekretaris I Pimpinan Wilayah Salimah Jawa Tengah

majalahembun.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar