script type='text/javascript'> var thumbnail_mode = "float" ; summary_noimg = 275; summary_img = 275; img_thumb_height = 120; img_thumb_width = 120;

Selasa, 12 Agustus 2014

Pendidikan dengan Keteladanan

Mendidik anak bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Mendidik anak bukan sekedar menjalani fitrah kehidupan mengikuti air mengalir, dan tak perlu pengetahuan dan perencanaan yang jelas. Sebaliknya, pendidikan anak harus dijalankan dengan tata cara yang benar, mengikuti pedoman yang telah dicontohkan uswah hasanah kita.
Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku ”Metode Pendidikan Anak Dalam Islam” menjelaskan tentang metode pendidikan anak yang efektif, yaitu mendidik dengan keteladanan, mendidik dengan pembiasaan, mendidik dengan nasehat, mendidik dengan pengawasan, dan mendidik dengan hukuman.
Insya Allah, akan kita bahas satu demi satu metode pendidikan tersebut. Kali ini, akan dibahas metode mendidik anak dengan keteladanan.
Dalam metode ini, orang tua mengajarkan segala sesuatu kepada anak dengan memberi keteladanan yang dapat dilihat dan ditirukan langsung oleh anak-anak.
Pendidikan dengan keteladanan ini sangat cocok bagi anak-anak karena proses pembelajaran yang pertama bagi seorang anak adalah meniru. Dia meniru siapa saja yang ada di sekitarnya. Dia berusaha mencoba apa saja yang dilakukan oleh orang yang dilihatnya, misalnya berusaha untuk makan sendiri, mencoret-coret dengan alat tulis, memakai sepatu dan baju ayah ibunya, menyuapi boneka, membuang sampah pada tempatnya, dll.
Pada perkembangan selanjutnya ketika si anak sudah bisa berbicara, maka ia akan memperhatikan dan mencoba meniru apa saja yang ia dengar dan ia lihat dari lingkungannya. Oleh karena itu hendaklah orang tua menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya dalam hal ucapan, tingkah laku, dan sikapnya. “…maka bertaqwalah kepada Allah, dan ucapkan perkataan yang benar”.(Q.S.An-Nisaa’:9).
Orang tua haruslah mencontoh Rasulullah SAW yang berakhlak mulia, lalu mengarahkan anak-anak, untuk menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah atau tauladan yang baik dalam segala aspek. Bila kita masing-masing meneladani Rasulullah SAW maka insya Allah akan tercipta generasi-generasi seperti para sahabat dan anak-anaknya.
Hal-hal yang penting untuk dilakukan oleh orang tua dalam melakukan metode ini adalah dengan memberikan keteladanan dalam hal :
a. Ibadah
Karena Allah SWT menciptakan kita, tiada lain agar kita beribadah kepada-Nya:“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Q.S. Adzariyaat : 51)
b. Sikap pemberani
Penting pula dicontohkan kepada anak sikap berani membela kebenaran, menentang kemaksiatan, dan berani bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan.
c. Sikap murah hati
Ketika anak menyaksikan orang tua mereka senang memberi bantuan kepada orang lain, tidak bakhil, serta ringan tangan dalam segala urusan sosial kemasyarakatan, maka anakpun insya Allah termotivasi untuk melakukan hal yang sama.
d. Bersifat zuhud
Marilah kita ajarkan kepada anak-anak kita untuk belajar bersifat zuhud, tidak boros dan tidak berlebih-lebihan. “Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhan-Mu lebih baik dan lebih kekal,” (Q.S.Thaahaa: 131).
e. Sikap tawadhu’
Sikap tawadhu’ rendah hati adalah sifat mulia. “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri,” (Q.S.Lukman: 18).
f. Sikap istiqomah
Allah SWT akan mengaruniakan kepada orang-orang yang istiqomah ketenangan hati, rasa optimis, dan pahala surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), janganlah merasa takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan,” (Q.S.Fushshilat: 30).
g. Sikap penyantun
Sikap penyantun dan lemah lembut akan memudahkan manusia menerima seruan dakwah ke jalan Allah SWT. Karenanya, setiap mukmin harus memiliki sifat penyantun dan lemah lembut, agar Islam diterima dengan baik oleh siapa saja, sebagai rahmat bagi seluruh alam. “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal,” (Q.S.Ali Imran: 159).

Hal 32 Oleh Ari Aji Astuti
Sekretaris I Pimpinan Wilayah Salimah Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar