script type='text/javascript'> var thumbnail_mode = "float" ; summary_noimg = 275; summary_img = 275; img_thumb_height = 120; img_thumb_width = 120;

Rabu, 13 Agustus 2014

Jajanan Sehat untuk Anak

Saat anak sudah masuk sekolah, itu artinya Ia akan mulai suka jajan. Mungkin akan agak sulit untuk melarangnya jajan. Apalagi, jajanan-jajanan di sekolah yang tidak sehat justru lebih menarik dan disukai anak-anak. Nah, yang bisa Anda lakukan adalah mengajarkan anak mengenali jajanan sehat, agar Ia dapat menentukan mana jajanan yang baik dan tidak baik baginya. Di bawah ini adalah hal-hal yang perlu Anda ajarkan pada anak:

• Katakan pada anak untuk menghindari jajanan berwarna 'ngejreng' karena mungkin makanan atau minuman tersebut mengandung banyak bahan pewarna dan ada kemungkinan bahan pewarna yang digunakan bukan pewarna makanan.

• Ingatkan anak untuk selalu memperhatikan label atau kotak kemasan. Jajanan tergolong cukup aman, jika pada kemasannya tercantum nama produk, jenis bahan, berat bersih, nama dan alamat produsen atau importir, masa kadaluarsa, dan nomor registrasi BPOM.

• Ajarkan anak untuk melihat situasi sekitar, apakah banyak serangga yang hinggap di makanan, apakah alat makan di tempat tersebut dicuci dengan air bersih yang mengalir dan menggunakan sabun. Intinya, ajarkan Ia mengenai kebersihan dasar dan minta Ia untuk memilih tempat jajan yang juga menerapkan prinsip tersebut.

Memilih mainan anak yang sesuai dengan usia dan kemapuannya

Memilih mainan anak yang tepat untuk anak dapat menjadi salah satu hal yang paling penting yang harus kita lakukan untuk anak-anak kita. Anak-anak sangat identik dengan bermain. Bermain adalah dunia anak yang paling dominan. Bahkan, untuk dapat lebih maksimal dalam menyampaikan pelajaran, pendidikan anak usia dini menerapkan sistem belajar sambil bermain. Hal ini disebabkan oleh kemampuan dari otak anak itu sendiri yang sedang gemar melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti bermain.Maka dari itu, metode pembelajaranpun harus disesuaikan dengan kemampuan anak-anak sesuai usianya.Dengan bermain, dipercaya bahwa pelajaran yang disampaikan akan lebih mudah diterima dan diserap oleh anak. Namun, sebagai orang tua, kita perlu menjadi lebih bijak dalam memilihkan jenis mainan yang tepat untuk anak-anak kita.
Tepat di sini berarti kita mampu memilih jenis mainan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak-anak kita dalam menggunakannya dan sekaligus memanfaatkannya sebagai media belajar. Sehingga kegiatan bermain anak akan berjalan dengan lebih efektif dan efisien sesuia dengan kebutuhan dan kemampuan otaknya. Ada beberapa fase penting dalam usia anak yang perlu kita jadikan sebagai bahan pertimbangan saat memilih mainan yang tepat untuk anak kita. Fase-fase tersebut antara lain adalah:
  • Fase 0-2 tahun. Dalam fase awal ini anak memiliki kemampuan yang didominasi oleh kemampuan sensor motorik pada otak anak. Sehingga akan lebih efektif jika kita memberikan mainan pada anak dengan wujud yang lebih mencolok seperti pada warna, baudan tekstur. Mainan yang menggunakan ekspresi juga dapat menjadi salah satu alternatifnya.
  • Fase 3-6 tahun. Pada usia-usia tersebut anak sudah mulai tertarik untuk bereksplorasi sehingga permainan yang memancing minat petualangan mereka akan sangat mendukung minat anak-anak kita. Hal ini dapat kita gunakan juga sebagai sarana untuk mendorong rasa percaya diri anak sehingga mereka tidak ragu-ragu untuk mengeksplorasi hal-hal baru.
  • Fase pra sekolah. Pada fase ini, yang anak butuhkan adalah jenis permainan yang dapat mengembangkan rasa kerjasama dan kemampuan sosialisasi mereka. Hal ini sangat diperlukan oleh anak-anak kita karena mereka akan membutuhkan kemampuan untuk bersosialisasi dengan lingkungan barunya di sekolah.
Untuk fase berikutnya, permainan yang cocok untuk anak anak kita adalah permainan yang memiliki kemampuan untuk merangsang kemampuan peran, ketangkasan, dan kreativitas pada anak. Dengan memilih mainan yang tepat untuk anak, berarti kita sama juga dengan mendukung kesempatan mereka untuk belajar dengan lebih efektif dan efisien sesuai dengan fase usia mereka masing-masing. Pemilihan mainan untuk anak secara bijak juga dapat membantu mereka untuk memiliki hidup yang lebih seimbang ke depannya.Dengan kata lain, kita sebagia orang tua memiliki peranan yang cukup penting dalam menentukan apa yang perlu anak kita dapatkan salah satunya dengan cara memilih mainan yang tepat untuk anak kita.

Selasa, 12 Agustus 2014

Pendidikan dengan Keteladanan

Mendidik anak bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Mendidik anak bukan sekedar menjalani fitrah kehidupan mengikuti air mengalir, dan tak perlu pengetahuan dan perencanaan yang jelas. Sebaliknya, pendidikan anak harus dijalankan dengan tata cara yang benar, mengikuti pedoman yang telah dicontohkan uswah hasanah kita.
Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku ”Metode Pendidikan Anak Dalam Islam” menjelaskan tentang metode pendidikan anak yang efektif, yaitu mendidik dengan keteladanan, mendidik dengan pembiasaan, mendidik dengan nasehat, mendidik dengan pengawasan, dan mendidik dengan hukuman.
Insya Allah, akan kita bahas satu demi satu metode pendidikan tersebut. Kali ini, akan dibahas metode mendidik anak dengan keteladanan.
Dalam metode ini, orang tua mengajarkan segala sesuatu kepada anak dengan memberi keteladanan yang dapat dilihat dan ditirukan langsung oleh anak-anak.
Pendidikan dengan keteladanan ini sangat cocok bagi anak-anak karena proses pembelajaran yang pertama bagi seorang anak adalah meniru. Dia meniru siapa saja yang ada di sekitarnya. Dia berusaha mencoba apa saja yang dilakukan oleh orang yang dilihatnya, misalnya berusaha untuk makan sendiri, mencoret-coret dengan alat tulis, memakai sepatu dan baju ayah ibunya, menyuapi boneka, membuang sampah pada tempatnya, dll.
Pada perkembangan selanjutnya ketika si anak sudah bisa berbicara, maka ia akan memperhatikan dan mencoba meniru apa saja yang ia dengar dan ia lihat dari lingkungannya. Oleh karena itu hendaklah orang tua menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya dalam hal ucapan, tingkah laku, dan sikapnya. “…maka bertaqwalah kepada Allah, dan ucapkan perkataan yang benar”.(Q.S.An-Nisaa’:9).
Orang tua haruslah mencontoh Rasulullah SAW yang berakhlak mulia, lalu mengarahkan anak-anak, untuk menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah atau tauladan yang baik dalam segala aspek. Bila kita masing-masing meneladani Rasulullah SAW maka insya Allah akan tercipta generasi-generasi seperti para sahabat dan anak-anaknya.
Hal-hal yang penting untuk dilakukan oleh orang tua dalam melakukan metode ini adalah dengan memberikan keteladanan dalam hal :
a. Ibadah
Karena Allah SWT menciptakan kita, tiada lain agar kita beribadah kepada-Nya:“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Q.S. Adzariyaat : 51)
b. Sikap pemberani
Penting pula dicontohkan kepada anak sikap berani membela kebenaran, menentang kemaksiatan, dan berani bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan.
c. Sikap murah hati
Ketika anak menyaksikan orang tua mereka senang memberi bantuan kepada orang lain, tidak bakhil, serta ringan tangan dalam segala urusan sosial kemasyarakatan, maka anakpun insya Allah termotivasi untuk melakukan hal yang sama.
d. Bersifat zuhud
Marilah kita ajarkan kepada anak-anak kita untuk belajar bersifat zuhud, tidak boros dan tidak berlebih-lebihan. “Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhan-Mu lebih baik dan lebih kekal,” (Q.S.Thaahaa: 131).
e. Sikap tawadhu’
Sikap tawadhu’ rendah hati adalah sifat mulia. “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri,” (Q.S.Lukman: 18).
f. Sikap istiqomah
Allah SWT akan mengaruniakan kepada orang-orang yang istiqomah ketenangan hati, rasa optimis, dan pahala surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), janganlah merasa takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan,” (Q.S.Fushshilat: 30).
g. Sikap penyantun
Sikap penyantun dan lemah lembut akan memudahkan manusia menerima seruan dakwah ke jalan Allah SWT. Karenanya, setiap mukmin harus memiliki sifat penyantun dan lemah lembut, agar Islam diterima dengan baik oleh siapa saja, sebagai rahmat bagi seluruh alam. “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal,” (Q.S.Ali Imran: 159).

Hal 32 Oleh Ari Aji Astuti
Sekretaris I Pimpinan Wilayah Salimah Jawa Tengah

Pendidikan dengan Pembiasaan

Pendidikan dengan pembiasaan adalah pendidikan yang dilakukan dengan cara membiasakan anak untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan. Ini merupakan  kelanjutan dari pendidikan dengan keteladanan. Hal-hal positif yang ingin kita tanamkan kepada anak, kita berikan kepada mereka berupa contohperilaku, dan kemudian kita biasakan anak-anak untuk melakukan hal-hal tsb.
Pola pembiasaan merupakan salah satu cara yang efektif dalam pendidikan anak. Pola ini tidak memerlukan banyak kata dan perintah, hanya memerlukan contoh dan konsistensi dalam melatih kebiasaan anak.
Hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menanamkan pendidikan dengan pembiasaan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk anak balita
a.  Pengkondisian dengan latihan berulang-ulang
Tahap ini sudah bisa dimulai sejak bayi. Hal-hal yang ingin kita tanamkan kepada anak seperti, membaca al Qur’an setiap ba’da magrib, membiasakan cuci tangan sebelum makan, dan lain-lain, kita contohkan kepada anak. Ini adalah merupakan tahap pengkondisian. Saat itu, anak akan mengamati, dan mencoba mencerna hal-hal yang ia lihat.
Setelah pengkondisian kita lakukan, kemudian kita latih anak-anak untuk melakukannya bersama-sama  setiap hari, berulang-ulang, dan kita ingatkan bila anak lupa atau tidak melakukannya. Untuk anak yang masih bayi, kita ajak serta pada saat kita melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Misalnya dengan menggendong atau memangkunya ketika kita membaca Al Qur’an, menidurkan anak disamping sajadah kita ketika kita shalat, dan sebagainya.
b. Membimbing/menuntun anak melakukan sesuatu dimulai dari mendengar, mengulang, memahami, menuliskan, membaca, dan kemudian mempraktikkan.
Misalnya membiasaan anak menghafal Al Qur’an, menghafal bacaan shalat, menghafal hadist, dan lain-lain. Kita mulai memperdengarkan ayat-ayat yang menjadi target hafalan anak, satu ayat demi satu ayat, berulang-ulang, secara kontinu misalnya setiap mengantar atau menemani anak menjelang tidur.
Saya telah mempraktikkan cara tersebut ketika anak saya masih bayi. Setiap malam ketika mengantar anak tidur, saya bacakan ayat-ayat Al Qur’an. Alhamdulillah, saat anak mulai bisa berbicara, ayat-ayat itu terucap dari mulutnya dengan baik dan lancar.
Untuk hafalan do’a sehari-hari, saya membacakannya setiap akan melakukan kegiatannya. Ketika akan memberi ASI, saya bacakan do’a mau makan.Selesai memberi ASI saya bacakan do’a setelah makan. Begitu anak bisa berbicara, semua aktifitas yang akan dlakukan dimulai dengan do’a yang sesuai, dengan baik pula..
2. Untuk anak-anak yang sudah baligh/dewasa
Sering terjadi, orang tua lupa menanamkan hal-hal baik kepada anak sehingga anak belum terbiasa melakukan kebaikan-kebaikan yang seharusnya sudah ia lakukan dikala usia mereka sudah baligh/dewasa.
Tentu hal ini menjadi lebih sulit dibanding dengan menanamkan kebiasaan ketika masih usiakanak-kanak. Diperlukan cara lain untuk dapat menyentuh rasa dan nurani anak sehingga ia akan tersadar dan kemudian melakukan kebiasaan baik dengan kesadaran sendiri. Anak-anak yang sudah baligh disadarkan dengan cara melibatkan rasa dan pikirnya, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menghubungkan/mengaitkan segala urusan dengan aqidah
Anak yang sudah baligh, ia sudah mampu berpikir. Ketika dalam usia tersebut anak belum terbiasa melakukan hal-hal yang seharusnya dia lakukan, hal yang paling tepat dilakukan adalah mengingatkannya dengan konsep aqidah.
Diingatkan akan banyaknya nikmat Allah SWT yang dilimpahkan kepadanya sehingga mestinya ia bersyukur dengan melakukan ketaatan dan memperbanyak ibadah. Diingatkan dengan adanya surga dan neraka, balasan kebaikan yang berlipat ganda bagi yang beramal shaleh, dan azab yang dahsyat bagi yang ingkar kepada Allah SWT dengan cara yang halus dan menyentuh hati, bukan dengan tekanan dan banyak vonis.
 b. Menjauhkan anak dari kemaksiatan
Agar anak terjaga dari hal-hal negatif dan bisa terus konsisten dengan perubahan menuju kebaikan, hindarkan selalu dari hal-hal yang buruk. Pelihara anak dari perilaku maksiat dan terus beri semangat bahwa dia akan mampu berubah bila ia berusaha dengan sungguh-sungguh.
c. Mengubah lingkungan anak
Ada kalanya anak sulit berubah menjadi lebih baik bila lingkungan pergaulan dan lingkungan hidupnya tidak berubah. Pengaruh lingkungan teramat besar bagi anak-anak, terutama yang sedang beranjak dewasa karena saat itu anak-anak biasanya merasa lebih nyaman dengan teman seusianya dan mulai sedikit menjauh dari orang tua. Maka orang tua wajib menciptakan lingkungan yang baik, yang mendukung terhadap perubahan anak dan meyakinkan bahwa lingkungan tempat mereka bergaul dan berkembang adalah lingkungan yang baik.


Hal 32 Oleh Ari Aji Astuti
Sekretaris I Pimpinan Wilayah Salimah Jawa Tengah

majalahembun.com 

Mendidik dengan Nasihat

Anak memerlukan nasihat untuk melakukan hal yang baik dan benar. Anak perlu diberi tahu serta diingatkan untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang salah. Suatu sifat manusiawi bahwa salah dan lupa itu akan selalu ada. Anak-anak pun tak dapat terhindar dari sifat lupa dan berbuat kesalahan, walaupun sudah setiap hari dan setiap saat dinasihati.
Ketika anak melakukan kesalahan, maka tak ada kata lain bagi orang tua kecuali menasihatinya. Tetapi, hal penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana nasihat itu harus disampaikan kepada anak, agar anak memahami nasihat dan mampu melaksanakannya dengan ringan hati  tanpa disertai rasa marah dan kebencian.
Kiat-kiat menasihati anak :
1. Nasihat harus diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Gunakan kalimat-kalimat sederhana, tapi mengena. Gunakan bahasa yang santun, sampaikan dengan tenang dan tanpa kemarahan.
2. Isi nasihat bisa diambil dari kisah-kisah yang ada dalam Al Qur’an, hadist-hadist Rasulullah SAW, atau kisah-kisah para sahabat, tabi’in, kisah-kisah teladan lainnya. Sampaikan kisah-kisah tersebut sebagai cerita sebelum tidur, cerita saat bermain, dan bacaan harian anak, sehingga nasihat dapat dicerna dengan baik tanpa ada kesan digurui.
3. Nasihat bisa disampaikan dengan cara-cara yang santai, seperti ngobrol, sambil bercanda, sambil makan bersama, dalam perjalanan, saat menemani anak berangkat tidur, dan lain-lain.
4. Jangan sekali-kali menasihati anak ketika kita dan anak kita dalam keadaan sedang marah. Orang yang marah tidak mampu berfikir secara rasional. Berbicara pasti dengan emosi. Semakin banyak bicara, emosi akan semakin membara. Apabila dipaksa berbicara,kata-kata yang keluar bisa jadi tidak terkontrol dan akhirnya bisa semakin mempertajam masalah. Langkah terbaik adalah mengikuti nasihat Rasulullah SAW, diamlah ketika marah.
5. Jangan menuntut anak untuk melakukan nasihat saat itu juga, karena anak bukanlah robot yang langsung bisa melaksanakan segala instruksi hanya dengan menekan tombol remote control.
6. Beri anak waktu untuk berfikir dan menyelami nasihat yang kita berikan, dan jangan  terburu-buru memberikan sanksi saat anak belum  melaksanakan nasihat tersebut.
7. Diskusikan bersama anak sanksi apa yang akan diberikan bila anak melanggar nasihat-nasihat kita.
Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana cara menasihati anak ketika mereka melakukan kesalahan :
a. Menegur anak dengan lemah lembut ketika anak melakukan kesalahan saat itu juga, kemudian menunjukkan hal yang benar. Seperti ketika Rasulullah SAW menegur seorang anak yang melakukan kesalahan saat makan bersama, maka beliau memberitahukan etika makan makan yang benar. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu.” (H.R. Bukhari Muslim)
b. Menasihati anak dengan sindiran. Nasihat dilakukan di depan banyak anak, tetapi tidak menyebutkan nama anak yang melakukan kesalahan, agar anak tidak merasa malu di depan teman-temannya.
c. Menasihati anak yang melakukan kesalahan secara tersembunyi untuk menjaga perasaan anak. Anak yang melakukan kesalahan dipanggil ke tempat khusus, dan dinasihati dari hati kehati, tidak di depanteman-temannya.
d. Menegur anak yang melakukan kesalahan, menunjukkan kesalahannya, kemudian memberi waktu untuk berfikir tentang kesalahan yang dilakukan. Kemudian memberikan sanksi yang setara dengan kesalahan anak, bila anak masih tetap melakukan kesalahan.
e. Tidak terlalu cepat memberikan hukuman, tetapi cari dulu sebab mengapa anak melakukan kesalahan. Beri nasihat, lihat hasilnya, baru setelah itu apabila anak belum juga berubah ke arah yang lebih baik, berikan hukuman yang setara dengan  kesalahan yang dilakukan.
Dalam menasihati anak, alangkah baiknya bila orang tua juga dapat menjadi contoh tauladan bagi anak tentang hal-hal yang dinasihatkan kepadanya. Sebab bagi anak, contoh riil akan lebih mengena daripada sekedar kata-kata.
Semoga kita para orang tua yang menginginkan anak-anak sholeh dan sholihah, terhindar dari perbuatan ini. Semoga kita dapat menjadi contoh bagi anak-anak kita dalam segala ucapan dan perbuatan, menjadi model idola bagi anak, dan bukan hanya menjadi orang tua yang pandai menasihati tetapi tak pandai memberi tauladan. Na’udzubillaahi min dzaalik. Aamiin.
Jangan sampai kita menjadi orang yang suka mengatakan, “Ikuti apa yang saya katakan, jangan ikuti apa yang saya lakukan”, namun semoga kita menjadi orang tua yang selalu dapat melakukan apa-apa yang kita nasihatkan kepada anak-anak kita, sehingga anak-anak memperoleh gambaran yang jelas bagaimana melaksanakan nasihat yang kita sampaikan. Aamiin. []
Hal 32 Oleh Ari Aji Astuti
Sekretaris I Pimpinan Wilayah Salimah Jawa Tengah

sumber: http://majalahembun.com/category/14-kolom/14-buah-hati/ 

Rabu, 06 Agustus 2014

Cara Menasehati Anak

Bersama anak, bukan hanya di dekat anak
Sangat penting untuk meluangkan waktu bersama anak, bukan hanya berada di dekat anak. ‘Bersama anak’ artinya kita ikut terlibat dengan kegiatan yang sedang dilakukan anak, entah bermain, belajar, atau apa pun.

Motivasi dari dalam, lebih baik daripada motivasi dari luar
Contoh motivasi internal: keinginan belajar anak karena rasa penasaran akan sesuatu.
contoh movitasi eksternal: suruhan, rasa takut (diomeli/dimarahi).
Motivasi internal akan jauh lebih kuat mendorong anak untuk melakukan hal-hal positif, daripada motivasi eksternal.
Prestasi, bukan prestise
Adakalanya orang tua mengejar prestise, melalui apa yang dicapai anak. Jika demikian, maka hal yang memberi prestise, misalnya nilai mata pelajaran, akan menjadi tujuan pencapaian orang tua.
Seharusnya yang dikejar adalah prestasi anak. Perolehan nilai mata pelajaran hanya salah satu indikator prestasi.
Proaktif, bukan reaktif
Contoh sikap reaktif:
Kita memarahi dan menasehati anak ketika mereka berantem.
Contoh sikap proaktif:
Kita mengapresiasi ketika anak sedang bekerja sama, main bersama misalnya.
Dahulukan reward, bukan punishment
Meskipun hukuman itu bisa saja diberikan ketika anak melakukan kesalahan, tetapi lebih baik dan harus jauh lebih didahulukan penghargaan ketika anak melakukan kebaikan. Jika akan membuat hukuman bagi pelanggaran tertentu, pastikan hukuman tersebut bisa dilaksanakan. Sebagai contoh, mengatakan pada anak di mall “Kalau kalian lari-lari terus, nanti ditinggal!” adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.
Jangan pernah berbohong pada anak
Kita mungkin pernah mentolerir kebohongan pada anak untuk hal-hal tertentu. Seharusnya kita tidak boleh sama sekali berbohong kepada anak, karena akan mengurangi kepercayaan mereka terhadap kita. Kurangnya kepercayaan anak kepada kita akan menyebabkan anak mencari pihak yang lebih dipercaya di luar rumah.
Tidak menyakiti fisik anak
Menyakiti fisik adalah salah satu contoh sikap reaktif ketika anak melakukan kesalahan, dan hanya akan menghentikan anak dalam jangka pendek.
Anak, Si Pembelajar
Pada dasarnya anak senang belajar. Itulah mengapa bayi pada umumnya sangat antusias mengejar sesuatu yang baru mereka lihat, meskipun harus berkali-kali jatuh. Yang sering tidak kita sadari, cara mereka belajar bisa jadi tidak sama dengan apa yang kita bayangkan. Mereka belajar dengan cara mengamati, menyentuh, menggigit apapun bagi bayi, mengacak-acak mainan dan sebagainya.
Konon, menurut penelitian, 80% anak malas belajar karena sress, entah di rumah atau di sekolah.
Beberapa tips mengajak anak belajar:
* Bawa anak pada kondisi nyaman dulu, misalnya awali dengan permainan, tebakan dsb.
* Usahakan anak penasaran dengan materi ajar: pancing dengan pertanyaan, ajak berimajinasi dsb.
Konsisten, konsisten!
Saya baru sadar betapa berbahayanya inkonsistensi dalam membuat aturan. Sebagai ilustrasi, ketika di awal kita melarang anak beli coklat, kemudian akhirnya memperbolehkan mereka beli karena merengek, nangis, bahkan mungkin mengamuk, maka anak akan belajar beberapa hal:
* Kata ‘tidak boleh’, ternyata bisa berarti ‘boleh’
* Semakin besar ‘gangguan’ yang dilakukan, ‘tidak boleh’ itu semakin mendekati ‘boleh’. Jadi kalau ingin berhasil, tinggal dinaikkan saja level gangguannya.
* Upaya negatif (menangis, merengek, mengamuk), ternyata bisa menghasilkan hasil positif (dibelikan coklat tuh…)
* Ternyata orang tua gak bisa dipercaya
Positif, bukan negatif
Selalu beri anak energi positif, bukan energi negatif
* Gunakan kalimat positif, jangan kalimat negatif (misalnya menggunakan kata ‘jangan’, ‘tidak’, ‘tidak boleh’). Bayangkan apa yang akan kita rasakan jika seseorang berkata “Jangan membayangkan seekor monyet berbadan besar, berbulu hitam, bergelantungan di pohon, bersuara uukk…ukk…”. Kita pasti akan membayangkan sang monyet dengan jelas, meskipun sudah jelas-jelas dikatakan “jangan”. Jadi lebih baik mengatakan “Nanti kita akan beli anu, anu dan anu”, daripada mengatakan “Nanti jangan beli coklat ya…”.
* Tidak memberi stigma negatif terhadap anak, misalnya dengan mengatakan “Iya nih, anak saya memang pemalu….” Jadi pemalu beneran terus menerus deh. Setiap anak pasti punya kelebihan. Angkat sisi-sisi yang jadi kelebihannya itu.
Meninggikan, jangan Merendahkan
Seperti juga orang tua, anak ingin dihargai, punya harga diri. Kadang kita secara tidak sadar merendahkan harga diri anak dengan cara: mengomeli, memarahi, menasehati terus menerus, sehingga di pikiran anak tertanam:
* Saya ini memang gak bisa
* Biar aja yang memutuskan ayah/ibu, toh kalau saya yang memutuskan mesti salah
* Pendapat saya mesti salah, pendapat ayah/ibu yang benar
dan seterusnya, yang membuat anak menjadi kurang percaya diri dan menilai negatif dirinya sendiri
Mendengar, baru berbicara
Kita kadang memandang anak sebagai ‘makhluk kecil yang belum ngerti, dan karena itu harus diberitahu, dinasehati dst’, sehingga kita jarang mau mendengar apa yang diinginkan dan dirasakan anak. Kita seharusnya mau lebih banyak mendengar, karena dengan kita dengarkan, rasa percaya dirinya akan naik, potensi berpikirnya pun akan lebih tergali. Ketika si Kakak memukul adeknya misalnya, maka seharusnya hal pertama yang kita lakukan adalah mendengar dan mencari tahu apa yang dia pikirkan/rasakan, sehingga si Adek dipukul. Setelah kita dengarkan, baru berbicara kepadanya: menasehati, memintanya untuk minta maaf dan sebagainya.

sumber: http://bintanggemerlap.wordpress.com

Tips Melatih Anak Shalat Sejak Balita

Karena pembelajaran shalat untuk anak usia dini adalah dalam rangka pembiasaan, bukan karena kewajiban, maka orang tua dapat melatih anak dengan cara-cara berikut ini :

1.TeladanMemberikan keteladanan dengan cara mengajak anak
melaksanakan shalat berjamaah di rumah. Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak dan yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak adalah orang tuanya. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan agar orang tua dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Pada tahap awal, keteladanan yang dapat dicontoh anak adalah gerakan-gerakan shalat. Pada tahap berikutnya keteladanan yang bisa diberikan orang tua adalah bacaan shalat dengan suara yang terdengar oleh anak. Sehingga anak tidak hanya mendapatkan stimulasi gerakan shalat tapi juga bacaan shalat.Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Orang tua harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas ( golden age ) pada anak
2.Melatih berulang-ulang
Melatih gerakan dan bacaan shalat pada anak usia dini hendaknya dilakukan dengan cara berulang-ulang  Semakin sering anak usia dini mendapatkan stimulasi tentang gerakan shalat, apalagi diiringi dengan pengarahan tentang bagaimana gerakan yang benar secara berulang-ulang maka anak usia dini semakin mampu melakukannya. Begitu juga dengan bacaan shalat. Semakin sering di dengar oleh anak, maka semakin cepat anak hafal bacaan shalat tersebut. Sekalipun pemberi teladan yang utama adalah ayah dan ibu, diharapkan orang dewasa lainnya yang tinggal bersama anak juga bisa menjadi teladan bagi anak. Sehingga ketika ayah tidak ada di rumah dan ibu berhalangan memberikan teladan, makapemberian latihan tetap bisa berlangsung oleh orang dewasa lainnya yang tinggal bersama anak
3.Suasana nyaman dan Aman.
Menghadirkan suasana belajar shalat yang memberikan rasa aman dan menyenangkan bagi anak dalam menerima seluruh proses pendidikan shalat yang diselenggarakan saat anak usia dini mengikuti gerakan orang tua dalam shalat, pada tahap awal terkadang bisa mengganggu kekhusukan shalat orang tua. Orang tua harus dapat memahami bahwa tindakan anak meniru gerakan orang tua adalah proses belajar, sehingga sekalipun anak dapat mengganggu kekhusukan shalat orang tua, anak tidak boleh di marahi atau dilarang dekat dengan orang tua saat shalat. Pengarahan tentang bagaimana tata cara shalat yang benar kita ajarkan kepada anak setelah proses shalat berlangsung. Dalam tahap lanjut, anak tidak hanya bisa meniru gerakan shalat, tapi juga memiliki kebanggaan untuk menggunakan simbol-simbol islami baik dalam ucapan maupun perilaku dalam shalatnya dan sebagainya.

4.Tidak MemaksaTidak melakukan pemaksaan dalam melatih anak usia dini
melakukan shalat
.
Perkembangan kemampuan anak melakukan gerakan shalat  adalah hasil dari pematangan proses belajar yang diberikan. Pengalaman dan pelatihan akan mempunyai pengaruh pada anak bila dasar-dasar keterampilan atau kemampuan yang diberikan telah mencapai kematangan. Kemudian, dengan kemampuan ini, anak dapat mencapai tahapan kemampuan baru yaitu dapat melakukan gerakan shalat sekalipun belum berurutan.
5.Tidak membanding-bandingkanSecara fisik, semakin bertambah usia anak maka semakin mampu melakukan gerakan-gerakan motorik dari yang sederhana sampai yang komplek. Namun perlu diperhatikan adanya keunikan setiap anak. Bisa jadi tahapan perkembangan gerakan motorik antara anak pertama lebih cepat dibandingkan anak kedua. Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk memperhatikan perkembangan seseorang, dan tidak membanding-bandingka dengan sang kakak atau anak yang lain yang seusia dengan anak.
sumber: http://anakkreatif.wordpress.com